Shalawat dan salam marilah kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan keluarga, sahabat-sahabat serta para pengikutnya.
Ada empat perbuatan ringan yang apabila kita lakukan, maka kita termasuk golongan orang yang tidak terpuji.
1. Seseorang yang membuang air kecil sambil berdiri, 2. Seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, 3. Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti apa yang diucapkan muadzin, 4. seseorang yang apabila mendengar nama Nabi Muhammad Saw disebut, tetapi tidak membacakan shalawat atasnya.
Sabda Nabi Muhammad Saw:
أربع من الجَفَاءِ أن يبول الرجل وهو قائم، وأن يمسح جبهته قبل أن يفرغ من الصلاة، وأن يسمع النداء فلا يشهد مثل ما يشهد المؤذّن، وأن أذكر عنده فلا يصلي عليّ. (رواه البزار والطبراني)
Artinya:
“Empat perbuatan termasuk perbuatan yang tidak terpuji, yaitu (1) bila seseorang buang air kecil sambil berdiri, (2) seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, (3). Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti yang diucapkan muadzin, (4) seseorang yang apabila mendengar namaku disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat atasku. (HR. Bazzar dan Tabhrani)
Dalam ibadah sehari-hari, sebenarnya ada sebuah perbuatan ringan yang apabila kita lakukan mendatangkan akibat yang maha dahsyat, dan apabila kita tinggalkan maka kita termasuk golongan orang yang tidak berbalas budi.
Pada saat kita telah diberi bantuan oleh orang lain, sudahlah pasti akan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, atau mungkin mengucapkan doa untuk kebaikannya. Begitu pula dengan Rasulullah Saw yang telah mengeluarkan kita dari lembah kegelapan menuju alam terang benderang, maka sudahlah pantas bagi kita untuk selalu mengucapkan sholawat dan salam atas beliau, sebagai ungkapan rasa terima kasih dan kecintaan kita atas segala jasa dan perjuangan yang tak tertandingi di alam jagad ini.
Dalam ibadah-ibadah lain, Allah Swt memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk mengerjakannya, namun khusus dalam perintah membaca shalawat, Allah Swt menyebutkan bahwa Allah sendiri bershalawat atasnya, kemudian memerintahkan kepada malaikatNya, baru kemudian pada orang-orang yang beriman untuk bershalawat atasnya. Dengan hal ini semakin menunjukkan bahwasanya melakukan shalawat atas Nabi muhammad saw, tidak cuma sekedar ungkapan terima kasih, tetapi ia juga menjadi ibadah yang utama.
Bila kita ingin mengetahui bahwa shalawat termasuk ibadah yang utama, maka perhatikan dan renungkan firman Allah Swt dalam al-Quran:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya, bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab 56).
Dari ayat tersebut kita mengetahui, Allah Swt saja sang Pencipta jagad raya dan mahkluk seluruh dunia termasuk diri kita yang kecil ini, mau bershalawat terhadap Nabi Muhammad Saw, dan juga para malaikat yang telah dijamin tak akan berbuat kesalahan turut bershalawat terhadap nabi, mengapa diri kita yang telah diselamatkan beliau masih melupakan ibadah yang teramat mulia ini. Sesungguhnya perbuatan seseorang menunjukkan pada perangai dirinya.
سيرة المرء تنبأ عن سريرته
Shalawat adalah sebuah ibadah yang tidak berbatas alam, jarak ataupun waktu. Artinya bila diucapkan maka akan menembus alam langit yang sangat jauh, didengar para malaikat, lalu turut menyampaikan doa bagi manusia yang mengucapkannya, dan menembus Alam kubur menyampaikan salam yang diucapkan manusia kepada Nabi Muhammad Saw.
Nabi Saw bersabda:
ما منكم من أحدٍ سلّم علي إذا متُّ إلا جاءني جبريل فقال جبريل يا محمد هذا فلان ابن فلان يُقرئك السلام، فأقول وعليه السلام ورحمة الله وبركاته. (رواه أبو داود).
Artinya:
“Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam kepadaku sesudah aku mati melainkan malaikat jibril datang kepadaku seraya mengucapkan: ‘wahai Muhammad, ini Fulan bin Fulan mengucapkan salam untukmu, maka aku menjawab: “dan atasnya salam dan rahmat serta berkah dari Allah”. (HR. Abu Daud)
Lalu apa fadhilah mengucapkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw?
Ada beberapa riwayat dari hadist Rasulullah Saw, Atsar sahabat Radiallahu anhum dan pengalaman beberapa ulama yang mengisyaratkan imbalan bagi mereka yang mau bershalawat.
1). Shalawat membersihkan dosa
Sabda Nabi Saw:
صلّو عليّ فإن الصلاة علي زكاةٌ لكم واسألوا الله لي الوسيلة، قالوا وما الوسيلة يا رسول الله؟ قال: أعلى درجةٍ في الجنة لا ينالها إلا رجلٌ واحدٌ وأنا ارجو أن يكون أنا هو. (رواه أحمد في مسنده)
“bacalah shalawat atasku karena sesungguhnya shalawat atasku membersihkan dosa-dosamu, dan mintalah kepada Allah untukku wasilah”. Para sahabat bertanya: “apakah wasilah itu?” beliau menjawab: “derajat yang paling tinggi di sorga yang hanya seorang saja yang akan memperolehnya dan aku berharap semoga akulah orang yang memperolehnya”.
2). Shalawat berpahala sepuluh rahmat Allah dan menghapus sepuluh kesalahan
Sabda Nabi Saw:
من صلّى علي صلاةً واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحطّ عنه عشر خطيآت (رواه النسائي)
“barangsiapa yang membaca shalawat atasku satu shalawat maka Allah akan menurunkan sepuluh rahmat kepadanya dan menghapus sepuluh kesalahannya” (HR. Nasai)
3). Dikabulkan hajat di dunia dan akhirat
Sabda beliau Saw:
من صلى علي في اليوم مائةَ مرّةٍ قضى الله له مائةَ حاجةٍ، سبعين منها في الآخرة وثلاثين في الدنيا
“barangsiapa yang membacakan shalawat untukku pada suatu hari seratus kali, maka Allah akan memenuhi seratus hajatnya, 70 di antaranya nanti di akhirat dan 30 di dunia. (Kitab Jam’ul Jawami’, Hal: 796)
4). Terangkatnya derajat manusia
Sabda beliau Saw:
من صلى عليّ من أمتي مخلصاًَ من قَلبِه صلاةً واحدةً صلّى اللهُ عليه عشر صلواتٍ ورفع عشر درجاتٍ ومحا عنه عشر سيئاتٍ. (رواه النسائ)
“barangsiapa di antara umatku yang membacakan shalawat atasku satu kali dengan ikhlas dari lubuk hatinya, maka Allah menurunkan sepuluh rahmat kepadanya, mengangkat sepuluh derajat kepadanya, dan menghapus sepuluh kesalahan”. (HR. Nasai)
5). Menjadikan doa cepat terkabul
Bahwasanya Umar bin Khattab Ra berkata: “Saya mendengar bahwa doa itu ditahan diantara langit dan bumi, tidak akan dapat naik, sehingga dibacakan shalawat atas nabi Muhammad Saw”. (Atsar Hasan, Riwayat Tirmidzi)
Ada sebuah cerita, bahwasanya ulama besar Sufyan ats Tsauri sedang thawaf mengelilingi ka’bah dan melihat seseorang yang setiap kali mengangkat kaki dan menurunkannya senantiasa membaca shalawat atas nabi.
Sufyan bertanya: “Sesungguhnya engkau telah telah tinggalkan tasbih dan tahlil, sedang engkau hanya melakukan shalawat atas Nabi. Apakah ada bagimu landasan yang khusus? Orang itu menjawab: “Siapakah engkau? Semoga Allah mengampunimu.
Sufyan menjawab: “Saya adalah sufyan ats tsauri”. Orang itu berkata: “seandainya kamu bukanlah orang yang istimewa di masamu ini niscaya saya tidak akan memberitahukan masalah ini dan menunjukkan rahasiaku ini”.
Kemudian orang itu berkata kepada sufyan: “sewaktu saya mengerjakan haji bersama ayahku, dan ketika berada di dekat kepalanya ayahku meninggal dan mukanya tampak hitam, lalu saya mengucapkan “innalillah wa inna ilahi rajiun” dan saya menutup mukanya dengan kain.
Kemudian saya tertidur dan bermimpi, dimana saya melihat ada orang yang sangat tampan, sangat bersih dan mengusap muka ayahku, lalu muka ayahku itu langsung berubah menjadi putih. Saat orang yang tampan itu akan pergi, lantas saya pegang pakaiannya sambil bertanya: “wahai hamba Allah siapakah engkau? Bagaimana lantaran kamu Allah menjadikan muka ayahku itu langsung berubah menjadi putih di tempat yang istimewa ini?. Orang itu menjawab: “apakah kamu tidak mengenal aku?
Aku adalah Muhammad bin Abdullah yang membawa al-Quran. Sesungguhnya ayahmu itu termasuk orang yang melampaui batas (banyak dosanya) akan tetapi ia banyak membaca shalawat atasku. Ketika ia berada dalam suasana yang demikian, ia meminta pertolongan kepadaku, maka akupun memberi pertolongan kepadanya, karena aku suka memberi pertolongan kepada orang yang banyak memperbanyak shalawat atasku”. Setelah itu saya terbangun dari tidur, dan saya lihat muka ayahku berubah menjadi putih. (Dari Kitab: Tanbihun Ghofilin, as-Samarqhondi, hal: 261)
Begitu dahsyatnya balasan shawalat terhadap Nabi Saw. sehingga bagi siapapun yang mengucapkannya akan melibatkan Allah, para malaikat dan Nabi Muhammad Saw langsung membalasnya, tidak cuma balasan pahala, imbalan atau keselamatan di akhirat, tetapi juga mendapat syafaat dari Nabi Muhammad Saw.
Orang yang mendengar shalawat atas nabi, tetapi tidak menjawabnya lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari RahmatNya.
Sabda Nabi:
“Jibril datang kepadaku dan berkata: “wahai Muhammad, barangsiapa yang mendapatkan bulan ramadhan namun ia tidak diampuni dosanya, lalu ia mati dan masuk neraka, maka Allah akan menjauhkan dari RahmatNya. Aku menjawab: “amin”. Jibril berkata lagi: “barangsiapa yang masih bertemu dengan kedua orangtuanya atau salah satu diantaranya kemudian tidak berbuat baik pada orang tuanya, lalu mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku menjawab: “Amin”. Jibril berkata lagi: “barangsiapa yang disebutkan namamu (muhammad) namun ia tidak membacakan shalawat lalu ia mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku mengucapkan “Amin”. (HR. Ibnu Hibban).
Ucapkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, disaat kita senggang, disaat akan menggubah posisi kegiatan kita, disaat kapanpun, dimanapun selagi kita mampu. Dan bila ada yang mengucapkan shalawat:
اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد
Maka kita menjawab:
اللهم صلى وسلم وبارك على محمد
Jangan lupakan shalawat, karena bila kita lupa berarti kita telah melupakan seseorang yang telah menunjukkan kita kejalan yang lurus yaitu Nabi Muhammad Saw. bila kita telah melupakan shalawat berarti kita telah melupakan dan keliru dari jalan yang seharusnya kita tempuh menuju sorga.
“barangsiapa yang lupa membaca shawalat atasku, berarti ia telah keliru dari jalan ke sorga” (HR. Ibnu majah).
http://www.facebook.com/home.php?#/notes.php?id=100000159044428&start=10
Kamis, 15 Oktober 2009
Filosofi sholat
Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan shalat (“iqamat al-shalah”, yakni menjalankannya dengan penuh kesungguhan), dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena shalatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. QS. Al-Mu’minun 23:1-2). Sebuah hadits Nabi SAW menegaskan, “Yang pertama kali akan diperhitungkan tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah shalat: jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.” Dan sabda beliau lagi, “Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah kepada Allah), tiang penyangganya shalat, dan puncak tertingginya ialah perjuangan di jalan Allah.”
Karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang pentingnya shalat , tentu sepatutnya kita memahami makna shalat itu sebaik mungkin. Bisa dikatakan shalat merupakan “kapsul” keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan. Dalam shalat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri (ibadah) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan melalui shalat itu kita memperoleh pendidikan untuk komitmen kepada nilai-nilai hidup yang luhur. Dalam perkataan lain, nampak pada kita bahwa shalat mempunyai dua makna sekaligus: Makna Intrinsik, sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan Makna Instrumental, sebagai sarana pendidikan ke arah nilai-nilai luhur.
Makna Intrinsik Shalat (Arti Simbolik Takbirat al-Ihram)
Kedua makna itu, baik yang intrinsik maupun yang instrumental, dilambangkan dalam keseluruhan shalat, baik dalam unsur bacaannya maupun tingkah lakunya. Secara Ilmu Fiqih, shalat dirumuskan sebagai “Ibadah kepada Allah dan pengagungan-Nya dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan tertentu yang dibuka dengan Takbir (“Allahu Akbar“) dan ditutup dengan Taslim (“al-salam-u ‘alaykam wa rahmatu-’l-Lah-i wa barakatah“), dengan runtutan dan tertib tertentu yang diterapkan oleh agama Islam.
Takbir pembukaan shalat itu dinamakan “Takbir Ihram” (Takbiratal-ihram), yang mengandung arti “takbir yang mengharamkan”, yakni, mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak berkaitan dengan shalat sebagai momen menghadap Tuhan. Takbir pembukaan itu seakan suatu pernyataan formal seseorang untuk membuka hubungan pribadi dengan Tuhan (“habl-un min-Allah“), dan mengharamkan atau memutuskan diri dari semua bentuk hubungan dengan sesama manusia (”hablum minannas”). Maka, makna intrinsik shalat yang disimbolkan dalam takbir pembukaan itu, melambangkan hubungan dengan Allah dan menghambakan diri kepada-Nya. Jika disebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah agar mereka menghamba kepada-Nya, maka wujud simbolik terpenting penghambaan itu ialah shalat yang dibuka dengan takbir tersebut, sebagai ucapan pernyataan dimulainya sikap menghadap Allah.
Sikap menghadap Allah itu kemudian dikukuhkan dengan membaca doa pembukaan (doa al-Iftitah), yaitu bacaan yang artinya, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi, secara hanif (kecenderungan suci kepada kebaikan dan kebenaran) lagi muslim (pasrah kepada Allah, Yang Maha Baik dan Benar itu), dan aku tidaklah termasuk mereka yang melakukan syirik.” Dilanjutkan dengan seruan, “Shalatku, darma baktiku, hidup dan matiku untuk Allah Penjaga seluruh alam raya; tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan, dan aku termasuk mereka yang pasrah (muslim).”
Jadi, dalam shalat itu seseorang diharapkan hanya melakukan hubungan vertikal dengan Allah, dan tidak diperkenankan melakukan hubungan horizontal dengan sesama makhluk (kecuali dalam keadaan terpaksa). Inilah ide dasar dalam takbirat al-ihram. Dalam literatur Islam Kejawen, shalat atau sembahyang dipandang sebagai “mati sajeroning hurip” (kematian dalam hidup), karena memang kematian adalah panutan hubungan horizontal sesama manusia guna memasuki alam akhirat yang merupakan “hari pembalasan” tanpa hubungan horizotal seperti pembelaan, perantaraan, ataupun tolong-menolong ( QS. al-Baqarah 2:48, 123 dan 254 ).
Selanjutnya dia yang sedang melakukan shalat hendaknya menyadari sedalam-dalamnya akan posisinya sebagai seorang makhluk yang sedang menghadap Qaliknya, dengan penuh keharuan, kesyahduan dan kekhusyukan. Sedapat mungkin ia menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta itu sedemikian rupa, sehingga ia “seolah-olah melihat Qaliknya”; dan kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa “Qaliknya melihat dia”, sesuai dengan makna Ihsan. Karena merupakan peristiwa menghadap Tuhan, shalat juga sering dilukiskan sebagai mi’raj seorang mukmin, dalam analogi dengan mi’raj Nabi SAW yang menghadap Allah secara langsung di Sidrat al-Muntaha.
Dengan Ihsan, shalat mengajarkan salah satu makna yang sangat penting, yaitu penginsyafan diri akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir (Omnipresent), sejalan dengan berbagai penegasan dalam Kitab Suci, misalnya: “Dia (Allah) itu beserta kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan.” ( QS. al-Hadid 57:4 ).
Lalu mengapa shalat disyariatkan? Agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya. Ditegaskan, misalnya, dalam perintah kepada Nabi Musa as saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!” ( QS. Thaha 20:14 ). Ingat kepada Allah yang dapat diartikan kelanggengan hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya” ( QS. al-Baqarah/2:156 ). Dalam literatur Islam Kejawen, Tuhan Yang Maha Esa adalah “Sangkan-Paraning urip” (Asal dan Tujuan hidup), bahkan “Sangkan-Paraning dumadi” (Asal dan Tujuan semua makhluk).
Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup (kata lain dari mengimani kehidupan akhirat) akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah)
Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan shalat (“iqamat al-shalah”, yakni menjalankannya dengan penuh kesungguhan), dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena shalatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. QS. Al-Mu’minun 23:1-2)
Mengapa shalat disyariatkan? Agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya. Ditegaskan, misalnya, dalam perintah kepada Nabi Musa as saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!” ( QS. Thaha 20:14 ). Ingat kepada Allah yang dapat diartikan kelanggengan hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya” ( QS. al-Baqarah/2:156 ). Dalam literatur Islam Kejawen, Tuhan Yang Maha Esa adalah “Sangkan-Paraning urip” (Asal dan Tujuan hidup), bahkan “Sangkan-Paraning dumadi” (Asal dan Tujuan semua makhluk).
Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup (kata lain dari mengimani kehidupan akhirat) akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah).
Setelah manusia menyadari, bahwa Allah tidak suka kepada sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan dan pekerti yang harus ditempuh dalam rangka hidup menuju Allah haruslah perbuatan yang benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani (nurani, memiliki sifat cahaya, yakni terang dan menerangi), yang merupakan pusat rasa kesucian (fithrah) dan sumber dorongan suci manusia menuju kebenaran (hanif).
Tetapi manusia adalah makhluk yang sekalipun pada dasarnya baik, namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kehidupannya sehari-hari. Sering kebenaran itu tak nampak padanya karena terhalang oleh hawa nafsu.
Maka ketika dalam shalat dibacalah Surat Al-Fatihah. Kandungan makna surat itu yang terutama harus dihayati benar-benar ialah permohonan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim). Permohonan itu setelah didahului dengan pernyataan, bahwa seluruh perbuatan dirinya akan dipertanggung jawabkan kepada Allah di hari akhir( “basmalah” ), diteruskan dengan pengakuan dan panjatan pujian kepada-Nya sebagai pemelihara seluruh alam raya (“hamdalah”), Yang Maha Pengasih (“al-Rahman”) dan Maha Penyayang (“al-Rahim”).
Lalu dilanjutkan dengan pengakuan terhadap Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan, di mana setiap orang akan berdiri mutlak sebagai pribadi di hadapan-Nya selaku Maha Hakim, dikukuhkan dengan pernyataan bahwa kita tidak akan menghamba, kecuali kepada-Nya saja semurni-murninya, dan juga hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan karena kita sadar bahwa kita sendiri tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk menemukan kebenaran.
Dalam peneguhan hati, bahwa kita tidak menghambakan diri kecuali kepada-Nya serta dalam penegasan bahwa hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan tersebut, seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Athahilah al-Sakandari, kita berusaha mengungkapkan ketulusan kita dalam memohon bimbingan ke arah jalan yang benar. Yaitu ketulusan berbentuk pengakuan bahwa kita tidak dibenarkan mengarahkan hidup ini kepada sesuatu apapun selain Tuhan, dan ketulusan berbentuk pelepasan pretensi-pretensi akan kemampuan diri menemukan kebenaran.
Dengan kata lain, dalam memohon petunjuk ke jalan yang benar itu, dalam ketulusan, kita berharap kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan permohonan kita. Namun pada saat yang sama juga ada kecemasan, bahwa kebenaran tidak dapat kita tangkap dengan tepat karena kesucian fitrah kita terkalahkan oleh kelemahan kita yang tidak dapat melepaskan diri dari kungkungan kecenderungan diri sendiri.”Harap-harap cemas” itu merupakan indikasi kerendahan hati dan tawadlu’, dan sikap itu merupakan pintu bagi masuknya karunia rahmat llahi: “Berdoalah kamu kepada-Nya dengan kecemasan dan harapan! Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada mereka yang berbuat baik” ( QS. al-A’raf/7:65 ).
Jadi, di hadapan Allah “nothing is taken for granted,” termasuk perasaan kita tentang kebaikan dan kebenaran dalam hidup nyata sehari-hari. Artinya, apapun perasaan kita, mungkin malah keyakinan kita tentang kebaikan dan kebenaran yang kita miliki harus senantiasa terbuka untuk dipertanyakan kembali (re-interpretasi)
Salah satu konsekuensinya adalah “kecemasan” itu tadi. Jika tidak begitu, maka berarti hanya ada harapan saja. Sedangkan harapan yang tanpa kecemasan samasekali adalah sikap kepastian diri yang mengarah pada kesombongan. Seseorang disebut sesat pada saat ia yakin berada di jalan yang benar, padahal sesungguhnya ia menempuh jalan yang keliru.
Keadaan orang yang demikian itu, lepas dari “iktikad baiknya”, tidak akan sampai kepada tujuan, meskipun, menurut Ibn Taymiyyah, masih sedikit lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak peduli pada masalah moral dan etika; orang inilah yang mendapatkan murka dari Allah.
Maka diajarkan kepada kita bahwa yang kita mohon kepada Allah ialah jalan hidup mereka terdahulu yang telah mendapat karunia kebahagiaan dari Dia, bukan jalan mereka yang terkena murka, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ini berarti ada suatu isyarat pada pengalaman berbagai umat masa lalu. Maka ia juga mengisyaratkan adanya kewajiban mempelajari dan belajar dari sejarah, guna menemukan jalan hidup yang benar. ( Lihat QS. Ali Imran/3:137).
Disebutkan dalam Kitab Suci bahwa shalat merupakan kewajiban “berwaktu” atas kaum beriman ( QS. al-Nisa’/4:103 ). Yaitu, diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, dimulai dari dini hari (Subuh), diteruskan ke siang hari (Dhuhur), kemudian sore hari (Ashar), lalu sesaat setelah terbenam matahari (Maghrib) dan akhirnya di malam hari (’Isya). Hikmah di balik penentuan waktu itu ialah agar kita jangan sampai lengah untuk ingat Allah di waktu pagi, kemudian saat kita istirahat sejenak dari kerja (Dhuhur) dan, lebih-lebih lagi, saat kita “santai” sesudah bekerja (dari Ashar sampai ‘Isya). Sebab, justru saat santai itulah biasanya dorongan dalam diri kita untuk mencari kebenaran menjadi lemah, mungkin malah kita tergelincir pada gelimang kesenangan dan kealpaan. Karena itulah ada pesan Ilahi agar kita menegakkan semua shalat, terutama shalat tengah, yaitu Ashar ( QS. al-Baqarah/2:238 ) dan agar kita mengisi waktu luang untuk bekerja keras mendekati Tuhan ( QS. al-Insyirah/94:7-8 )
Karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang pentingnya shalat , tentu sepatutnya kita memahami makna shalat itu sebaik mungkin. Bisa dikatakan shalat merupakan “kapsul” keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan. Dalam shalat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri (ibadah) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan melalui shalat itu kita memperoleh pendidikan untuk komitmen kepada nilai-nilai hidup yang luhur. Dalam perkataan lain, nampak pada kita bahwa shalat mempunyai dua makna sekaligus: Makna Intrinsik, sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan Makna Instrumental, sebagai sarana pendidikan ke arah nilai-nilai luhur.
Makna Intrinsik Shalat (Arti Simbolik Takbirat al-Ihram)
Kedua makna itu, baik yang intrinsik maupun yang instrumental, dilambangkan dalam keseluruhan shalat, baik dalam unsur bacaannya maupun tingkah lakunya. Secara Ilmu Fiqih, shalat dirumuskan sebagai “Ibadah kepada Allah dan pengagungan-Nya dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan tertentu yang dibuka dengan Takbir (“Allahu Akbar“) dan ditutup dengan Taslim (“al-salam-u ‘alaykam wa rahmatu-’l-Lah-i wa barakatah“), dengan runtutan dan tertib tertentu yang diterapkan oleh agama Islam.
Takbir pembukaan shalat itu dinamakan “Takbir Ihram” (Takbiratal-ihram), yang mengandung arti “takbir yang mengharamkan”, yakni, mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak berkaitan dengan shalat sebagai momen menghadap Tuhan. Takbir pembukaan itu seakan suatu pernyataan formal seseorang untuk membuka hubungan pribadi dengan Tuhan (“habl-un min-Allah“), dan mengharamkan atau memutuskan diri dari semua bentuk hubungan dengan sesama manusia (”hablum minannas”). Maka, makna intrinsik shalat yang disimbolkan dalam takbir pembukaan itu, melambangkan hubungan dengan Allah dan menghambakan diri kepada-Nya. Jika disebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah agar mereka menghamba kepada-Nya, maka wujud simbolik terpenting penghambaan itu ialah shalat yang dibuka dengan takbir tersebut, sebagai ucapan pernyataan dimulainya sikap menghadap Allah.
Sikap menghadap Allah itu kemudian dikukuhkan dengan membaca doa pembukaan (doa al-Iftitah), yaitu bacaan yang artinya, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi, secara hanif (kecenderungan suci kepada kebaikan dan kebenaran) lagi muslim (pasrah kepada Allah, Yang Maha Baik dan Benar itu), dan aku tidaklah termasuk mereka yang melakukan syirik.” Dilanjutkan dengan seruan, “Shalatku, darma baktiku, hidup dan matiku untuk Allah Penjaga seluruh alam raya; tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan, dan aku termasuk mereka yang pasrah (muslim).”
Jadi, dalam shalat itu seseorang diharapkan hanya melakukan hubungan vertikal dengan Allah, dan tidak diperkenankan melakukan hubungan horizontal dengan sesama makhluk (kecuali dalam keadaan terpaksa). Inilah ide dasar dalam takbirat al-ihram. Dalam literatur Islam Kejawen, shalat atau sembahyang dipandang sebagai “mati sajeroning hurip” (kematian dalam hidup), karena memang kematian adalah panutan hubungan horizontal sesama manusia guna memasuki alam akhirat yang merupakan “hari pembalasan” tanpa hubungan horizotal seperti pembelaan, perantaraan, ataupun tolong-menolong ( QS. al-Baqarah 2:48, 123 dan 254 ).
Selanjutnya dia yang sedang melakukan shalat hendaknya menyadari sedalam-dalamnya akan posisinya sebagai seorang makhluk yang sedang menghadap Qaliknya, dengan penuh keharuan, kesyahduan dan kekhusyukan. Sedapat mungkin ia menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta itu sedemikian rupa, sehingga ia “seolah-olah melihat Qaliknya”; dan kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa “Qaliknya melihat dia”, sesuai dengan makna Ihsan. Karena merupakan peristiwa menghadap Tuhan, shalat juga sering dilukiskan sebagai mi’raj seorang mukmin, dalam analogi dengan mi’raj Nabi SAW yang menghadap Allah secara langsung di Sidrat al-Muntaha.
Dengan Ihsan, shalat mengajarkan salah satu makna yang sangat penting, yaitu penginsyafan diri akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir (Omnipresent), sejalan dengan berbagai penegasan dalam Kitab Suci, misalnya: “Dia (Allah) itu beserta kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan.” ( QS. al-Hadid 57:4 ).
Lalu mengapa shalat disyariatkan? Agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya. Ditegaskan, misalnya, dalam perintah kepada Nabi Musa as saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!” ( QS. Thaha 20:14 ). Ingat kepada Allah yang dapat diartikan kelanggengan hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya” ( QS. al-Baqarah/2:156 ). Dalam literatur Islam Kejawen, Tuhan Yang Maha Esa adalah “Sangkan-Paraning urip” (Asal dan Tujuan hidup), bahkan “Sangkan-Paraning dumadi” (Asal dan Tujuan semua makhluk).
Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup (kata lain dari mengimani kehidupan akhirat) akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah)
Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan shalat (“iqamat al-shalah”, yakni menjalankannya dengan penuh kesungguhan), dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena shalatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. QS. Al-Mu’minun 23:1-2)
Mengapa shalat disyariatkan? Agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya. Ditegaskan, misalnya, dalam perintah kepada Nabi Musa as saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!” ( QS. Thaha 20:14 ). Ingat kepada Allah yang dapat diartikan kelanggengan hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya” ( QS. al-Baqarah/2:156 ). Dalam literatur Islam Kejawen, Tuhan Yang Maha Esa adalah “Sangkan-Paraning urip” (Asal dan Tujuan hidup), bahkan “Sangkan-Paraning dumadi” (Asal dan Tujuan semua makhluk).
Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup (kata lain dari mengimani kehidupan akhirat) akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah).
Setelah manusia menyadari, bahwa Allah tidak suka kepada sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan dan pekerti yang harus ditempuh dalam rangka hidup menuju Allah haruslah perbuatan yang benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani (nurani, memiliki sifat cahaya, yakni terang dan menerangi), yang merupakan pusat rasa kesucian (fithrah) dan sumber dorongan suci manusia menuju kebenaran (hanif).
Tetapi manusia adalah makhluk yang sekalipun pada dasarnya baik, namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kehidupannya sehari-hari. Sering kebenaran itu tak nampak padanya karena terhalang oleh hawa nafsu.
Maka ketika dalam shalat dibacalah Surat Al-Fatihah. Kandungan makna surat itu yang terutama harus dihayati benar-benar ialah permohonan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim). Permohonan itu setelah didahului dengan pernyataan, bahwa seluruh perbuatan dirinya akan dipertanggung jawabkan kepada Allah di hari akhir( “basmalah” ), diteruskan dengan pengakuan dan panjatan pujian kepada-Nya sebagai pemelihara seluruh alam raya (“hamdalah”), Yang Maha Pengasih (“al-Rahman”) dan Maha Penyayang (“al-Rahim”).
Lalu dilanjutkan dengan pengakuan terhadap Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan, di mana setiap orang akan berdiri mutlak sebagai pribadi di hadapan-Nya selaku Maha Hakim, dikukuhkan dengan pernyataan bahwa kita tidak akan menghamba, kecuali kepada-Nya saja semurni-murninya, dan juga hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan karena kita sadar bahwa kita sendiri tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk menemukan kebenaran.
Dalam peneguhan hati, bahwa kita tidak menghambakan diri kecuali kepada-Nya serta dalam penegasan bahwa hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan tersebut, seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Athahilah al-Sakandari, kita berusaha mengungkapkan ketulusan kita dalam memohon bimbingan ke arah jalan yang benar. Yaitu ketulusan berbentuk pengakuan bahwa kita tidak dibenarkan mengarahkan hidup ini kepada sesuatu apapun selain Tuhan, dan ketulusan berbentuk pelepasan pretensi-pretensi akan kemampuan diri menemukan kebenaran.
Dengan kata lain, dalam memohon petunjuk ke jalan yang benar itu, dalam ketulusan, kita berharap kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan permohonan kita. Namun pada saat yang sama juga ada kecemasan, bahwa kebenaran tidak dapat kita tangkap dengan tepat karena kesucian fitrah kita terkalahkan oleh kelemahan kita yang tidak dapat melepaskan diri dari kungkungan kecenderungan diri sendiri.”Harap-harap cemas” itu merupakan indikasi kerendahan hati dan tawadlu’, dan sikap itu merupakan pintu bagi masuknya karunia rahmat llahi: “Berdoalah kamu kepada-Nya dengan kecemasan dan harapan! Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada mereka yang berbuat baik” ( QS. al-A’raf/7:65 ).
Jadi, di hadapan Allah “nothing is taken for granted,” termasuk perasaan kita tentang kebaikan dan kebenaran dalam hidup nyata sehari-hari. Artinya, apapun perasaan kita, mungkin malah keyakinan kita tentang kebaikan dan kebenaran yang kita miliki harus senantiasa terbuka untuk dipertanyakan kembali (re-interpretasi)
Salah satu konsekuensinya adalah “kecemasan” itu tadi. Jika tidak begitu, maka berarti hanya ada harapan saja. Sedangkan harapan yang tanpa kecemasan samasekali adalah sikap kepastian diri yang mengarah pada kesombongan. Seseorang disebut sesat pada saat ia yakin berada di jalan yang benar, padahal sesungguhnya ia menempuh jalan yang keliru.
Keadaan orang yang demikian itu, lepas dari “iktikad baiknya”, tidak akan sampai kepada tujuan, meskipun, menurut Ibn Taymiyyah, masih sedikit lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak peduli pada masalah moral dan etika; orang inilah yang mendapatkan murka dari Allah.
Maka diajarkan kepada kita bahwa yang kita mohon kepada Allah ialah jalan hidup mereka terdahulu yang telah mendapat karunia kebahagiaan dari Dia, bukan jalan mereka yang terkena murka, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ini berarti ada suatu isyarat pada pengalaman berbagai umat masa lalu. Maka ia juga mengisyaratkan adanya kewajiban mempelajari dan belajar dari sejarah, guna menemukan jalan hidup yang benar. ( Lihat QS. Ali Imran/3:137).
Disebutkan dalam Kitab Suci bahwa shalat merupakan kewajiban “berwaktu” atas kaum beriman ( QS. al-Nisa’/4:103 ). Yaitu, diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, dimulai dari dini hari (Subuh), diteruskan ke siang hari (Dhuhur), kemudian sore hari (Ashar), lalu sesaat setelah terbenam matahari (Maghrib) dan akhirnya di malam hari (’Isya). Hikmah di balik penentuan waktu itu ialah agar kita jangan sampai lengah untuk ingat Allah di waktu pagi, kemudian saat kita istirahat sejenak dari kerja (Dhuhur) dan, lebih-lebih lagi, saat kita “santai” sesudah bekerja (dari Ashar sampai ‘Isya). Sebab, justru saat santai itulah biasanya dorongan dalam diri kita untuk mencari kebenaran menjadi lemah, mungkin malah kita tergelincir pada gelimang kesenangan dan kealpaan. Karena itulah ada pesan Ilahi agar kita menegakkan semua shalat, terutama shalat tengah, yaitu Ashar ( QS. al-Baqarah/2:238 ) dan agar kita mengisi waktu luang untuk bekerja keras mendekati Tuhan ( QS. al-Insyirah/94:7-8 )
Sabtu, 15 Agustus 2009
Senin, 27 April 2009
sisi lain Tanah Banten
Rasa syukur yang sangat dalam pada Allah swt serta shalawat beriring salam kepada Arwah junjungan Alam nabi besar Muhammad SAW, serta semua yang telah membantu dan berperan dalam kehidupan saya baik secara langsung maupun tidak langsung terutama selama saya berada di serang.
Akhirnya masa tinggal diriku di Banten tuk sementara waktu harus berakhir..
Tapi pindah domisili bukan berarti pindah smuanya..
Tak terasa sudah lebih 6 bulan saya di tanah banten ini, tanah yang sebelumnya saya anggap agak misterius karena banyak cerita yang menyebutkan daerah ini perlu hati2 tuk memasukinya..
Tapi Allah sangat luar biasa mengatur smua ini..
Banten daerah yg selama ini hanya sebagai daerah yg hanya lewat bagiku akhirnya bisa ku dapatkan sisi lainnya..
Banyak pengalaman yang sangat berharga selama saya disini, pencarian modal…Modal yang akhirnya makin aku pahami bahwa ternyata aku sangat butuh modal ini..Dan inilah modal paling bagus dan tepat buat diriku dan saya yakin ini juga yg tepat buat smua orang....
Insya Allah Beberapa waktu lagi aku akan meninggalkan daerah ini menuju timur..Mencoba dan akan terus mencari hakikat perjalanan ini.. Saya adalah pekerja Allah yang ditempatkan di dunia, saya harus siap dimanapun akan ditempatkan..
Keikhlasan dan kesabaran akan sangat menentukan arah perjalanan ini nanti..
Akhirnya masa tinggal diriku di Banten tuk sementara waktu harus berakhir..
Tapi pindah domisili bukan berarti pindah smuanya..
Tak terasa sudah lebih 6 bulan saya di tanah banten ini, tanah yang sebelumnya saya anggap agak misterius karena banyak cerita yang menyebutkan daerah ini perlu hati2 tuk memasukinya..
Tapi Allah sangat luar biasa mengatur smua ini..
Banten daerah yg selama ini hanya sebagai daerah yg hanya lewat bagiku akhirnya bisa ku dapatkan sisi lainnya..
Banyak pengalaman yang sangat berharga selama saya disini, pencarian modal…Modal yang akhirnya makin aku pahami bahwa ternyata aku sangat butuh modal ini..Dan inilah modal paling bagus dan tepat buat diriku dan saya yakin ini juga yg tepat buat smua orang....
Insya Allah Beberapa waktu lagi aku akan meninggalkan daerah ini menuju timur..Mencoba dan akan terus mencari hakikat perjalanan ini.. Saya adalah pekerja Allah yang ditempatkan di dunia, saya harus siap dimanapun akan ditempatkan..
Keikhlasan dan kesabaran akan sangat menentukan arah perjalanan ini nanti..
Kamis, 12 Februari 2009
masuk angin sumber penyakit
Syaikh Hakim Mu’inuddin Chisyti menyebutkan, salah satu contoh nasihat arif yang disampaikan Rasulullah SAW, adalah nasihat untuk mencicipi sedikit garam sebelum mulai makan. Padahal jika dicerna dengan kearifan ilmu kedokteran modern nasihat itu bertentangkan, disebabkan adanya efek yang berbahaya dari kelebihan mengkonsumsi garam. Benarkah?
“Nasihat itu sebenarnya menunjukan kearifan pengetahuan tentang metabolisme tubuh,” ujar Syaikh Hakim Chisyti. Diterangkan garam sebenarnya tersusun dari dua bahan kimia; sodium dan khlorida. Nah, khlorida yang ada dalam garam merupakan satu-satunya sumber khlorida yang mudah diperoleh dan dapat digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan hydrochlorid acid (zat asam garam). Fungsinya sangat penting untuk melancarkan pencernaan dalam perut.
Jadi, mencicipi sedikit garam sebelum makan memungkinkan terjadinya suatu kekurangan hydrochloric acid persis sebelum memasukan makanan baru. Perlu ditambahkan bahwa efek-efek yang berbahaya dari kelebihan garam terutama dihubungkan dengan tingkat kandungan sodium yang meningkat, bukan khlorida.
Ditambahkan, bahwa orang yang sama sekali menghilangkan garam dari dietnya ditengarai gampang terkena penyakit yang disebabkan tidak memadainya kandungan hydrochlorid acid. Dua contoh ini membuktikan bahwa memang ada alasan medis yang masuk akal untuk mengikuti rekomendasi hadis-hadis tersebut.
Syeikh Hakim menyebutkan beberapa hadis arif tentang kesehatan dan penyembuhan itu sampai sekarang dianut kaum sebagai pedoman mendapatkan hidup sehat, termasuk mendapatkan cara penyembuhan dengan mengkonsumsi makanan sesuai yang dianjurkan.
Dalam contoh lain Nabi Muhammad bersabda, “Sumber dari setiap penyakit adalah masuk angin karena itu makanlah ketika kamu lapar dan berhentilah sebelum kenyang,”. Hadis lain yang berhubungan dengan kesehatan disebutkan, “Dalam pandangan Allah, makanan yang terbaik adalah makanan yang dimakan bersam-sama oleh banyak orang . Makan pagi sendirian adalah makan bersama setan, makan dengan satu orang lain adalah makanan dengan seorang tiran; makan dengan dua orang lain adalah makan bersama para nabi Allah,”.
“Ada keberkahan di bagian tengah suatu hidangan. Maka mulailah makan dari bagian pinggir dan jangan dari tengah,”. Implikasi tentang makanan ini dimaksudkan bahwa seseorang semestinya tidak mementingkan diri sendiri dan memperkenalkan orang lain untuk memperoleh berkah secara bersama-sama. Tidak harus selelau memonopoli berkah yang seharusnya didapat orang lain.
Sedangkan diantara jenis makanan yang diajurkan Rasulullah karena besar bermanfaatnya, disebutkan antara lain; Daging Ayam, dinilai ringan di perut dan gampang dicerna. Maka daging ayam dikatakan Rasulullah sebagai daging paling baik diantara unggas piaraan. Fungsi daging ini memperbaiki dan menyeimbangkan semua esensi.
Juga merupakan makanan yang baik untuk otak, serta memperbaiki warna kulit. Namun, kelebihan konsumsi daging ayam dapat menyebabkan encok. Ayam yang terbaik untuk dikonsumsi, disebutkan, ayam betina yang belum pernah bertelur.
Jintan Hitam; dalam hadis-hadis yang paling dihormati menyatakan Rasulullah mengatakan, ”Manfaatkanlah jintan hitam, karena ia merupakan obat bagi semua penyakit kecuali penyakit bengkak (kanker), dan itu adalah penyakit yang membawa maut”. Juga dilaporkan bahwa Allah memberitahu Nabi,” Ia telah diberi segalanya. “Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud “Ia” itu adalah jintan hitam.
Jintan hitam mengurangi gas dalam perut dan menghentikan demam. Ia juga manjur untuk mengobati leukoderma (penyakit belang/vitiligo), dan membuka jaringan urat darah dalam tubuh dapat dikeringkan oleh jintan hitam, dan darah haid. Terutama berguna untuk orang yang sedang pilek. Minyak jintan hitam merupakan obat untuk masalah kebotakan dan kulit kepala, serta mencegah rambut kusam.
Buah Jeruk, dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW , ”Jeruk itu bagaikan seorang beriman yang sejati; enak rasanya, harum baunya,”. Fungsi jeruk memperkuat jantung, menghalau kesedihan, menghilangkan bintik-bintik kulit, menghilangkan lapar, dan memperlambat aliran air empedu. Istri Rasulullah sendiri biasa mengobati orang-orang buta dengan jeruk yang dicampur madu. Jetuk untuk mencuci mulut paling baik dimakan 10 menit setelah makan.
http://misterionline.com/category/sufi/
“Nasihat itu sebenarnya menunjukan kearifan pengetahuan tentang metabolisme tubuh,” ujar Syaikh Hakim Chisyti. Diterangkan garam sebenarnya tersusun dari dua bahan kimia; sodium dan khlorida. Nah, khlorida yang ada dalam garam merupakan satu-satunya sumber khlorida yang mudah diperoleh dan dapat digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan hydrochlorid acid (zat asam garam). Fungsinya sangat penting untuk melancarkan pencernaan dalam perut.
Jadi, mencicipi sedikit garam sebelum makan memungkinkan terjadinya suatu kekurangan hydrochloric acid persis sebelum memasukan makanan baru. Perlu ditambahkan bahwa efek-efek yang berbahaya dari kelebihan garam terutama dihubungkan dengan tingkat kandungan sodium yang meningkat, bukan khlorida.
Ditambahkan, bahwa orang yang sama sekali menghilangkan garam dari dietnya ditengarai gampang terkena penyakit yang disebabkan tidak memadainya kandungan hydrochlorid acid. Dua contoh ini membuktikan bahwa memang ada alasan medis yang masuk akal untuk mengikuti rekomendasi hadis-hadis tersebut.
Syeikh Hakim menyebutkan beberapa hadis arif tentang kesehatan dan penyembuhan itu sampai sekarang dianut kaum sebagai pedoman mendapatkan hidup sehat, termasuk mendapatkan cara penyembuhan dengan mengkonsumsi makanan sesuai yang dianjurkan.
Dalam contoh lain Nabi Muhammad bersabda, “Sumber dari setiap penyakit adalah masuk angin karena itu makanlah ketika kamu lapar dan berhentilah sebelum kenyang,”. Hadis lain yang berhubungan dengan kesehatan disebutkan, “Dalam pandangan Allah, makanan yang terbaik adalah makanan yang dimakan bersam-sama oleh banyak orang . Makan pagi sendirian adalah makan bersama setan, makan dengan satu orang lain adalah makanan dengan seorang tiran; makan dengan dua orang lain adalah makan bersama para nabi Allah,”.
“Ada keberkahan di bagian tengah suatu hidangan. Maka mulailah makan dari bagian pinggir dan jangan dari tengah,”. Implikasi tentang makanan ini dimaksudkan bahwa seseorang semestinya tidak mementingkan diri sendiri dan memperkenalkan orang lain untuk memperoleh berkah secara bersama-sama. Tidak harus selelau memonopoli berkah yang seharusnya didapat orang lain.
Sedangkan diantara jenis makanan yang diajurkan Rasulullah karena besar bermanfaatnya, disebutkan antara lain; Daging Ayam, dinilai ringan di perut dan gampang dicerna. Maka daging ayam dikatakan Rasulullah sebagai daging paling baik diantara unggas piaraan. Fungsi daging ini memperbaiki dan menyeimbangkan semua esensi.
Juga merupakan makanan yang baik untuk otak, serta memperbaiki warna kulit. Namun, kelebihan konsumsi daging ayam dapat menyebabkan encok. Ayam yang terbaik untuk dikonsumsi, disebutkan, ayam betina yang belum pernah bertelur.
Jintan Hitam; dalam hadis-hadis yang paling dihormati menyatakan Rasulullah mengatakan, ”Manfaatkanlah jintan hitam, karena ia merupakan obat bagi semua penyakit kecuali penyakit bengkak (kanker), dan itu adalah penyakit yang membawa maut”. Juga dilaporkan bahwa Allah memberitahu Nabi,” Ia telah diberi segalanya. “Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud “Ia” itu adalah jintan hitam.
Jintan hitam mengurangi gas dalam perut dan menghentikan demam. Ia juga manjur untuk mengobati leukoderma (penyakit belang/vitiligo), dan membuka jaringan urat darah dalam tubuh dapat dikeringkan oleh jintan hitam, dan darah haid. Terutama berguna untuk orang yang sedang pilek. Minyak jintan hitam merupakan obat untuk masalah kebotakan dan kulit kepala, serta mencegah rambut kusam.
Buah Jeruk, dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW , ”Jeruk itu bagaikan seorang beriman yang sejati; enak rasanya, harum baunya,”. Fungsi jeruk memperkuat jantung, menghalau kesedihan, menghilangkan bintik-bintik kulit, menghilangkan lapar, dan memperlambat aliran air empedu. Istri Rasulullah sendiri biasa mengobati orang-orang buta dengan jeruk yang dicampur madu. Jetuk untuk mencuci mulut paling baik dimakan 10 menit setelah makan.
http://misterionline.com/category/sufi/
Langganan:
Postingan (Atom)